Senin, 13 Oktober 2008

ASKEP ANAK DENGAN ENCEPHALITIS


PENGERTIAN

Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.

PATOGENESIS ENSEFALITIS
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
 Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
 Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah
Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
 Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di
Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .
Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang.
Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.

Penyebab Ensefalitis:
Penyebab terbanyak : adalah virus
Sering : - Herpes simplex
- Arbo virus
Jarang : - Entero virus
- Mumps
- Adeno virus
Post Infeksi : - Measles
- Influenza
- Varisella
Post Vaksinasi : - Pertusis
Ensefalitis supuratif akut :
Bakteri penyebab Esenfalitis adalah : Staphylococcusaureus, Streptokok, E.Coli, Mycobacterium dan T. Pallidum.

Ensefalitis virus:
Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,variola.

Gejala-Gejala yang mungkin terjadi pada Ensefalitis :
- Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.
- Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.




PEMERIKSAAN LABORATORIUM / PEMERIKSAAN PENUNJANG

Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.

Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.
  1. ANALISA DATA
    NO TGL / JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI
    1 Diisi pada saat tanggal pengkajian Berisi data subjektif dan data objektif yang didapat dari pengkajian keperawatan masalah yang sedang dialami pasien seperti gangguan pola nafas, gangguan keseimbangan suhu tubuh, gangguan pola aktiviatas,dll Etiologi berisi tentang penyakit yang diderita pasien
  2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    • Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
    • Resiko tinggi perubahan peR/usi jaringan b/d Hepofalemia, anemia
    • Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umu.
    • Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
    • Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
    • Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah
    • Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
    • Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
    • Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
    • Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.

  3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
    NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN
    1 Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
    tidak terjadi infeksi
    Dengan Kriteria Hasil :
    Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
    1. Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
    2. Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
    3. Berikan antibiotika sesuai indikasi
    2 Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
    Tidak terjadi trauma
    Kriteria Hasil :
    Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain
    1. Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
    2. Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
    3. Kolaborasi.
      Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
    4. Abservasi tanda-tanda vital
    3 Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang
    Tidak terjadi kontraktur
    Kriteria Hasil :
    - Tidak terjadi kekakuan sendi
    - Dapat menggerakkan anggota tubuh
    1. Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik , terjadi kekacauan sendi.
    2. Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
    3. Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
    4. Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
    5. Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar