Selasa, 15 Juli 2008

ASKEP ANAK DENGAN THYPOID


  1. TEORI
    Pengertian
    Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).

    Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).

    Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).

    Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).

    Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).

    Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
    Etiologi
    Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
    Patofisiologi
    Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
    Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
    Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang
    Manifestasi Klinik
    Masa tunas typhoid 10 – 14 hari
    1. Minggu I
      pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.
    2. Minggu II
      pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.
    Komplikasi
    1. Komplikasi intestinal
      1. Perdarahan usus
      2. Perporasi usus
      3. Ilius paralitik
    2. Komplikasi extra intestinal
      1. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis
      2. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
      3. Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis
      4. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
      5. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
      6. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
      7. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.
    Penatalaksanaan
    1. Perawatan
      1. Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
      2. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.
    2. Diet
      1. Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein
      2. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
      3. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
      4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
    3. Obat-obatan
      1. Klorampenikol
      2. Tiampenikol
      3. Kotrimoxazol
      4. Amoxilin dan ampicillin
    Pencegahan
    Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas
    Pemeriksaan Penunjang
    Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
    1. Pemeriksaan leukosit
      Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
    2. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
      SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
    3. Biakan darah
      Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
      1. Teknik pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
      2. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
      3. Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
      4. Pengobatan dengan obat anti mikroba. Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
    4. Uji Widal
      Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
      1. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
      2. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).
      3. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)
      Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
      Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :
      1. Faktor yang berhubungan dengan klien :
        • Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
        • Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
        • Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut
        • Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
        • Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
        • Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
        • Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah
        • Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.
      2. Faktor-faktor Teknis
        • Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.
        • Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.
        • Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.
    Tumbuh kembang anak usia 6 - 12 tahun
    Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.
    Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.
    1. Motorik kasar
      • Loncat tali
      • Badminton
      • Memukul
      • motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan keleluasaan.
    2. Motorik halus
      • Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
      • Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
    3. Kognitif
      • Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
      • Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
      • Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal
      • Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
    4. Bahasa
      • Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
      • Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan
      • Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
      • Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan
    Dampak Hospitalisasi
    Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.
    Penyebab anak stress meliputi ;
    1. Psikososial
      Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran
    2. Fisiologis
      Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri
    3. Lingkungan asing
      Kebiasaan sehari-hari berubah
    4. Pemberian obat kimia
    Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
    • Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya
    • Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri
    • Selalu ingin tahu alasan tindakan
    • Berusaha independen dan produktif
    Reaksi orang tua
    • Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan
    • Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit
  2. ANALISA DATA
    NO TGL / JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI
    1 Diisi pada saat tanggal pengkajian Berisi data subjektif dan data objektif yang didapat dari pengkajian keperawatan masalah yang sedang dialami pasien seperti gangguan pola nafas, gangguan keseimbangan suhu tubuh, gangguan pola aktiviatas,dll Etiologi berisi tentang penyakit yang diderita pasien
  3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    • Resti ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.
    • Resti gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
    • Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi.
    • Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik.
    • Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat.
  4. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
    NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN
    1 Resti ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.
    Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi Dengan Kriteria Hasil :
    • Membran mukosa bibir lembab,
    • tanda-tanda vital (TD, S, N dan RR) dalam batas normal,
    • tanda-tanda dehidrasi tidak ada
    1. Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis dan peningkatan suhu tubuh
    2. pantau intake dan output cairan dalam 24 jam, ukur BB tiap hari pada waktu dan jam yang sama,
    3. catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah nyeri dan distorsi lambung.
    4. Anjurkan klien minum banyak kira-kira 2000-2500 cc per hari,
    5. kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, K, Na, Cl)
    6. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan melalui parenteral sesuai indikasi.
    2 Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
    Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi
    Kriteria Hasil :
    • Nafsu makan bertambah
    • menunjukkan berat badan stabil/ideal,
    • nilai bising usus/peristaltik usus normal (6-12 kali per menit)
    • konjungtiva dan membran mukosa bibir tidak pucat.
    1. Kaji pola nutrisi klien
    2. kaji makan yang di sukai dan tidak disukai klien,
    3. anjurkan tirah baring/pembatasan aktivitas selama fase akut,
    4. timbang berat badan tiap hari.
    5. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering,
    6. catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah, nyeri dan distensi lambung,
    7. kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet,
    8. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetik seperti (ranitidine).
    3 Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi
    Hipertermi teratasi
    Kriteria Hasil :
    • Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal
    • bebas dari kedinginan
    • tidak terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.
    1. Observasi suhu tubuh klien
    2. anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien,
    3. beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas,
    4. anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun,
    5. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik.
    4 Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik
    Kebutuhan sehari-hari terpenuhi
    Kriteria hasil :
    • Mampu melakukan aktivitas,
    • bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan otot.
    1. Berikan lingkungan tenang dengan membatasi pengunjung,
    2. bantu kebutuhan sehari-hari klien seperti mandi, BAB dan BAK,
    3. bantu klien mobilisasi secara bertahap,
    4. dekatkan barang-barang yang selalu di butuhkan ke meja klien
    5. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin sesuai indikasi.
    5 Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive
    Infeksi tidak terjadi
    Kriteria hasil :
    • eritema, (-)
    • bengkak (-)
    • Tanda-tanda infeksi (-)
    • sekresi purulen/drainase (-)
    • febris.(-)
    1. Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR).
    2. Observasi kelancaran tetesan infus,
    3. monitor tanda-tanda infeksi
    4. antiseptik sesuai dengan kondisi balutan infus.
    5. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai indikasi.
    6 Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat
    Pengetahuan keluarga meningkat
    Kriteria hasil :
    • Menunjukkan pemahaman tentang penyakitnya, melalui perubahan gaya hidup
    • Orang tua berpartisipasi dalam proses perawatan.
    1. Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga klien tentang penyakit anaknya,
    2. Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan klien,
    3. beri kesempatan keluaga untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti,
    4. beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat,
    5. pilih berbagai strategi belajar seperti teknik ceramah, tanya jawab dan demonstrasi
    6. tanyakan apa yang tidak di ketahui klien,
    7. libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien

2 komentar:

  1. Kunjungan pertama,, artikel askepnya bagus2 mas..

    BalasHapus

Entri Populer