Jumat, 10 Oktober 2008

ASKEP KLIEN DENGAN KANKER PAYUDARA


  1. TEORIKanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara.

    Penyebab
    Penyebabnya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan seorang wanita menjadi lebih mungkin menderita kanker payudara.


    Faktor Risiko
    Beberapa faktor risiko yang berpengaruh adalah :
    1. Usia.
    Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun. Risiko terbesar ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun.
    2. Pernah menderita kanker payudara.
    Setelah payudara yang terkena diangkat, maka risiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat sebesar 0,5-1%/tahun.
    3. Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara.
    Wanita yang ibu, saudara perempuan atau anaknya menderita kanker, memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara.
    4. Faktor genetik dan hormonal.
    5. Pernah menderita penyakit payudara non-kanker.
    6. Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil.
    7. Pemakaian pil kb atau terapi sulih estrogen.
    8. Obesitas pasca menopause.
    9. Pemakaian alkohol.
    10 Pemakaian alkohol lebih dari 1-2 gelas/hari bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.
    11. Bahan kimia.
    Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai estrogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.
    12. DES (dietilstilbestrol).
    Wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah keguguran memiliki risiko tinggi menderita kanker payudara.
    13 Penyinaran.

    Gejala dan Tanda

    Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara di sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur.

    Pada stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada atau kulit di sekitarnya. Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau borok di kulit payudara. Kadang kulit diatas benjolan mengkerut dan tampak seperti kulit jeruk.

    Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah benjolan atau massa di ketiak, perubahan ukuran atau bentuk payudara, keluar cairan yang abnormal dari puting susu (biasanya berdarah atau berwarna kuning sampai hijau, mungkin juga bernanah), perubahan pada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola (daerah berwana coklat tua di sekeliling puting susu), payudara tampak kemerahan, kulit di sekitar puting susu bersisik, puting susu tertarik ke dalam atau terasa gatal, nyeri payudara atau pembengkakan salah satu payudara. Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan lengan atau ulserasi kulit.

    Pencegahan
    Banyak faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan. Beberapa ahli diet dan ahli kanker percaya bahwa perubahan diet dan gaya hidup secara umum bisa mengurangi angka kejadian kanker.

    Diusahakan untuk melakukan diagnosis dini karena kanker payudara lebih mudah diobati dan bisa disembuhan jika masih pada stadium dini.

    Sadari, pemeriksan payudara secara klinis dan mammografi sebagai prosedur penyaringan merupakan 3 alat untuk mendeteksi kanker secara dini.

    Penatalaksanaan
    Biasanya pengobatan dimulai setelah dilakukan penilaian secara menyeluruh terhadap kondisi penderita, yaitu sekitar 1 minggu atau lebih setelah biopsi. Pengobatannya terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran, kemoterapi dan obat penghambat hormon.

    Terapi penyinaran digunakan untuk membunuh sel-sel kanker di tempat pengangkatan tumor dan daerah sekitarnya, termasuk kelenjar getah bening.

    Kemoterapi (kombinasi obat-obatan untuk membunuh sel-sel yang berkembangbiak dengan cepat atau menekan perkembangbiakannya) dan obat-obat penghambat hormon (obat yang mempengaruhi kerja hormon yang menyokong pertumbuhan sel kanker) digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kanker di seluruh tubuh.
  1. ANALISA DATA
    NO TGL / JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI
    1 Diisi pada saat tanggal pengkajian Berisi data subjektif dan data objektif yang didapat dari pengkajian keperawatan masalah yang sedang dialami pasien seperti gangguan pola nafas, gangguan keseimbangan suhu tubuh, gangguan pola aktiviatas,dll Etiologi berisi tentang penyakit yang diderita pasien
  2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    • Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.
    • Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mengatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
    • Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.
    • Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
    • Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasi/radiotherapi.
    • Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
    • Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif.
    • Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.
    • Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.

  3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
    NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN
    1 Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi.
    Klien dapat mengurangi rasa cemasnya
    Dengan Kriteria Hasil :
    Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
    Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.
    1. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.
    2. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
    3. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
    4. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.
    5. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.
    6. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
    7. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
    8. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.
    2 Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi),
    Klien mampu mengontrol rasa nyeri
    Kriteria Hasil :
    1. Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas
    2. Melaporkan nyeri yang dialaminya
    3. Mengikuti program pengobatan
    4. Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin
    1. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
    2. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya
    3. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV
    4. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.
    5. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.
    3 Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea),
    Klien menunjukkan berat badan yang stabil
    Kriteria Hasil :
    1. Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi
    2. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat
    3. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya
    1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.
    2. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.
    3. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.
    4. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
    5. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.
    6. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.
    7. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
    8. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
    4 Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
    Klien dapat mengerti kondisi penyakit yang dialaminya
    Kriteria hasil :
    1. Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting-katan siap.
    2. Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut.
    3. Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo- batan.
    4. Bekerjasama dengan pemberi informasi.
    1. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya.
    2. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker.
    3. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.
    4. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.
    5. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.
    6. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal.
    7. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi.
    8. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut.
    5 Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasi/radiotherapi.
    Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan
    Kriteria hasil :
    1. Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi
    2. Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal.
    3. Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga mulut.
    1. Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat pertemuan dengan klien dan secara periodik.
    2. Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah.
    3. Diskusikan dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygine.
    4. Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, hindarkan makanan yang keras.
    5. Amati dan jelaskan pada klien tentang tanda superinfeksi oral.
      Kolaboratif
    6. Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi
    7. Berikan obat sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine, antimikrobial mouthwash preparation.
    6 Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
    Klien menunjukkan keseimbangan cairan
    Kriteria hasil :
    tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry refill normal, urine output normal.
    1. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
    2. Timbang berat badan jika diperlukan.
    3. Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.
    4. Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.
    5. Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.
    6. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie.
    7. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.
      Kolaboratif
    8. Berikan cairan IV bila diperlukan.
    9. Berikan therapy antiemetik.
    10. Monitor hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin
    7 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
    Kriteria hasil :
    1. Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi
    2. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal
    1. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.
    2. Jaga personal hygine klien dengan baik.
    3. Monitor temperatur.
    4. Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi.
    5. Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur.
      Kolaboratif
    6. Berikan antibiotik bila diindikasikan.
    8 Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan Klien dapat memahami kondisinya
    Kriteria Hasil
    1. Klien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker dan therapi terhadap seksualitas
    2. Mempertahankan aktivitas seksual dalam batas kemampuan
    1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang proses seksualitas dan reaksi serta hubungannya dengan penyakitnya.
    2. Berikan advise tentang akibat pengobatan terhadap seksualitasnya.
    3. Berikan privacy kepada klien dan pasangannya. Ketuk pintu sebelum masuk
    9 Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. 1. Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik
    2. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan
    1. Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.
    2. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
    3. Ubah posisi klien secara teratur.
    4. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.

    1 komentar: