Senin, 21 Juli 2008

ASKEP ANAK DENGAN GASTROENTERITIS


  1. TEORI Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.).
    Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,).
    Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s,).
    Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers, ).
    Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gstroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.
    Patofisiologi
    Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.
    Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
    Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

    Manifestasi klinis
    1. Diare.
    2. Muntah.
    3. Demam.
    4. Nyeri Abdomen
    5. Membran mukosa mulut dan bibir kering
    6. Fontanel Cekung
    7. Kehilangan berat badan
    8. Tidak nafsu makan
    9. Lemah
    Pemeriksaan penunjang
    1. Pemeriksaan laboratorium.
      1. Pemeriksaan tinja.
      2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan.
      3. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.
    2. pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.
    Penatalaksanaan
    1. Pemberian cairan.
    2. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
      • Memberikan asi.
      • Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
    3. Obat-obatan.
    Keterangan :
    Pemberian cairan,pada klien Diare dengasn memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.
    1. cairan per oral. Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang,cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na,Hco,Kal dan Glukosa,untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan,atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/I dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.
    2. Cairan parentral. Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi,yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
      1. Dehidrasi ringan.
        • 1 jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB / hari
        • Kemudian 125 ml / Kg BB / oral
      2. Dehidrasi sedang.
        • 1 jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral
        • kemudian 125 ml / kg BB / hari.
      3. Dehidrasi berat.
        • Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg
          • 1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.
          • 7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
          • 16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
        • Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.
        • 1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).
        • 7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
        • Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.
          • 1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
          • 16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.
      4. Diatetik ( pemberian makanan ). Terafi diatetik adalah pemberian makan dan minum khusus kepada penderita dengan tujuan meringankan,menyembuhkan serta menjaga kesehatan penderita.
        Hal – hal yang perlu diperhatikan :
        1. Memberikan Asi.
        2. Memberikan bahan makanan yang mengandung cukup kalori,protein,mineral dan vitamin,makanan harus bersih.
      5. Obat-obatan.
        1. Obat anti sekresi.
        2. Obat anti spasmolitik.
        3. Obat antibiotik.
    Komplikasi
    Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :
    1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
    2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
    3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
    4. Infeksi sitemik
    5. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
    6. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
    TUMBUH KEMBANG ANAK.
    Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang pengertian dari pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam besar, jumlah, ukuran atau dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan perkembangan adalah menitik beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ individu termasuk perubahan aspek dan emosional.
    Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan orang dewasa kecil, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara ekonomi.
    Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak, baik secara fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan masyarakat.
    Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan.
    1. Motorik halus.
      • Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.
      • Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya
      • Memasukkan benda kedalam mulutnya.
      • Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.
      • Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.
    2. Motorik kasar.
      • Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.
      • Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.
      • Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.
    3. Kognitif.
      • Berusaha memperluas lapangan.
      • Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.
      • Mulai mencari benda-benda yang hilang.
    4. Bahasa.
      Mengeluarkan suara ma, pa, ba walaupun kita berasumsi ia sudah dapat memanggil kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.
    DAMPAK HOSPITALISASI TERHADAP ANAK.
    Separation ansiety
    • Tergantung pada orang tua
    • Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
    • Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik diri, sedih, kesepian dan apatis
    • Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan denga.n orang lain dan menyukai lingkungan
  2. ANALISA DATA
    NO TGL / JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI
    1 Diisi pada saat tanggal pengkajian Berisi data subjektif dan data objektif yang didapat dari pengkajian keperawatan masalah yang sedang dialami pasien seperti gangguan pola nafas, gangguan keseimbangan suhu tubuh, gangguan pola aktiviatas,dll Etiologi berisi tentang penyakit yang diderita pasien
  3. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    • Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
    • Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
    • Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.
    • Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
    • Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.
    • Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.
  4. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
    NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN
    1 Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
    Devisit cairan dan elektrolit teratasi Dengan Kriteria Hasil :
    Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang
    1. Observasi tanda-tanda vital.
    2. Observasi tanda-tanda dehidrasi.
    3. Ukur input dan output cairan (balanc ccairan).
    4. Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari.
    5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit.
    6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
    2 Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
    Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
    Kriteria Hasil :
    Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.
    1. Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.
    2. Timbang berat badan klien.
    3. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.
    4. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi).
    5. Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
    6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
    3 Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.
    Gangguan integritas kulit teratasi
    Kriteria Hasil :
    Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada
    1. Ganti popok anak jika basah.
    2. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol.
    3. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
    4. Observasi bokong dan perineum dari infeksi.
    5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.
    4 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
    Nyeri dapat teratasi
    Kriteria hasil :
    Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang
    1. Observasi tanda-tanda vital.
    2. Kaji tingkat rasa nyeri.
    3. Atur posisi yang nyaman bagi klien.
    4. Beri kompres hangat pada daerah abdoment.
    5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.
    5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.
    Pengetahuan keluarga meningkat
    Kriteria hasil :
    Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
    1. Kaji tingkat pendidikan keluarga klien.
    2. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien.
    3. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes.
    4. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.
    5. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.

    1 komentar:

    1. Kunjungan malam sobat, ditunggu kunjungan baliknya

      BalasHapus