Selasa, 22 Juli 2008

ASKEP ANAK DENGAN DEFEK SEPTUM ATRIUM


  1. TEORI Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron.
    Tiga macam variasi yang terdapat pada ASD, yaitu
    1. Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum, mungkin disertai kelainan katup mitral.
    2. Ostium Secundum (ASD 2), letak lubang di tengah septum.
    3. Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior dan Atrium Kanan.
    Etiologi
    Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD.
    Faktor-faktor tersebut diantaranya :
    1. Faktor Prenatal
      a. Ibu menderita infeksi Rubella
      b. Ibu alkoholisme
      c. Umur ibu lebih dari 40 tahun
      d. Ibu menderita IDDM
      e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu
    2. Faktor genetik
      a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
      b. Ayah atau ibu menderita PJB
      c. Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down
      d. Lahir dengan kelainan bawaan lain
    Gangguan hemodinamik
    Tekanan di Atrium kiri lebih tinggi daripada tekanan di Atrium Kanan sehingga memungkinkan aliran darah dari Atrium Kiri ke Atrium Kanan.
    Patofisiologi
    Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah yang mengandung oksigen dari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. Aliran yang melalui defek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut. Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikel kiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibatvolume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Jika complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan bisa berkurang. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.
    Manifestasi klinis
    1. Bising sistolik tipe ejeksi di daerah sela iga dua/tiga pinggir sternum kiri.
    2. Dyspnea
    3. Aritmia
    Pemeriksaan penunjang
    1. Laboratorium
    2. Foto thorax
    3. EKG ; deviasi aksis ke kiri pada ASD primum dan deviasi aksis ke kanan pada ASD Secundum; RBBB,RVH
    4. Echo
    5. Kateterisasi jantung ; prosedur diagnostik dimana kateter radiopaque dimasukan kedalam serambi jantung melalui pembuluh darah perifer, diobservasi dengan fluoroskopi atau intensifikasi pencitraan; pengukuran tekanan darah dan sample darah memberikan sumber-sumber informasi tambahan.
    6. TEE (Trans Esophageal Echocardiography)
    Terapi medis/pemeriksaan penunjang
    1. Pembedahan penutupan defek dianjurkan pada saat anak berusia 5-10 tahun. Prognosis sangat ditentukan oleh resistensi kapiler paru, dan bila terjadi sindrome Eisenmenger, umumnya menunjukkan prognosis buruk.
    2. Amplazer Septal Ocluder
    3. Sadap jantung (bila diperlukan).
    Komplikasi
    1. Gagal Jantung
    2. Penyakit pembuluh darah paru
    3. Endokarditis
    4. Aritmia
  2. ANALISA DATA
    NO TGL / JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI
    1 Diisi pada saat tanggal pengkajian Berisi data subjektif dan data objektif yang didapat dari pengkajian keperawatan masalah yang sedang dialami pasien seperti gangguan pola nafas, gangguan keseimbangan suhu tubuh, gangguan pola aktiviatas,dll Etiologi berisi tentang penyakit yang diderita pasien
  3. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    • Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
    • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen
    • Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
    • Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
    • Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi
    • Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)
  4. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
    NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN
    1 Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
    Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung. Dengan Kriteria Hasil :
    • Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia.
    • Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kgbb, bergantung pada usia )
    1. Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.
    2. Beri obat penurun afterload sesuai program
    3. Beri diuretik sesuai program
    2 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen
    Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan.
    Kriteria Hasil :
    • Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.
    • Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat.
    1. Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan.
    2. Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.
    3. Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
    4. Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.
    5. Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.
    6. Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.
    3 Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
    Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan.
    Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan usia
    Kriteria Hasil :
    • Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat.
    • Anak melakukan aktivitas sesuai usia
    • Anak tidak mengalami isolasi sosial
    1. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.
    2. Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.
    3. Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.
    4. Dorong aktivitas yang sesuai usia.
    5. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.
    6. Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.
    4 Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
    Klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi Kriteria hasil :
    Anak bebas dari infeksi.
    1. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
    2. Beri istirahat yang adekuat
    3. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.
    5 Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi
    Klien/keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi secara dini.
    Kriteria hasil :
    • Keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat.
    • Klien/keluarga menunjukkan pemahaman tentang tes diagnostik dan pembedahan.
    1. Ajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi,Gagal jantung kongestif :
      • Takikardi, khususnya selama istirahat dan aktivitas ringan.
      • Takipnea
      • Keringat banyak di kulit kepala, khususnya pada bayi.
      • Keletihan
      • Penambahan berat badan yang tiba-tiba
      • Distress pernapasan
      • Toksisitas digoksin
      • Muntah (tanda paling dini)
      • Mual
      • Anoreksia
      • Bradikardi.
      • Disritmia
      • Peningkatan upaya pernapasan – retraksi, mengorok, batuk, sianosis.
      • Hipoksemia – sianosis, gelisah.
      • Kolaps kardiovaskular – pucat, sianosis, hipotonia.
    2. Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik
      • Tempatkan anak pada posisi lutut-dada dengan kepala dan dada ditinggikan.
      • Tetap tenang.
      • Beri oksigen 100% dengan masker wajah bila ada.
      • Hubungi praktisi
    3. Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga.
    4. Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur.
    5. Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.
    6. Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan.
    6 Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)
    Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas
    Klien menunjukkan perilaku koping yang positif
    Kriteria hasil :
    • Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya
    • Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif
    1. Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.
    2. Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.
    3. Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.
    4. Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak.

    1 komentar:

    1. Minta izin copy artikel askepnya ya mas, sebelumnya terima kasih banyak. Gorontalo

      BalasHapus